Mengukur Keberhasilan Transportasi Di Indonesia
Oleh : Elsya Crownia
Kecelakaan pesawat kembali terjadi. Pesawat Lion Air mengalami kecelakaan di Bandara Adi Soemarno, Solo, Jawa tengah. Tragedi ini memperpanjang angka kecelakaan transportasi di Indonesia. Sebelumnya telah ada kasus Adam Air, dan terbakarnya pesawat Garuda di Yogyakarta.
Begitu banyak catatan kelam yang meninggalkan duka, bahkan tidak habis-habisnya. Seluruh aset transportasi yang digunakan masyarakat berbuntut pada bencana dan luka. Peradaban makin maju, sistem komunikasi semakin canggih, sementara transportasi yang digunakan masyarakat masih bekas dari luar negeri . Itu pun masih di gunakan sampai sekarang.
Rentetan kecelakaan adalah jawaban dari kelalaian. Kecelakaan pesawat terbang, kereta api, tenggelamnya kapal, menandakan bahwa sebenarnya transportasi Indonesia bermasalah. Berdasarkan data Departemen Perhubungan, angka kecelakaan di Indonesia cendrung meningkat. Dari tahun 2003 sampai 2007 ini terjadi kenaikan 100 persen dengan 100 kasus.
Departemen Perhubungan (Dephub) dalam waktu dekat akan mengumumkan pemeringkatan 16 maskapai nasional berjadwal. Dephub juga akan melakukan pemeringkatan terhadap 34 maskapai tidak berjadwal (Sindo, 21/3). Pemeringkatan itu mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No 3/2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan.
Profesionalisme badan maskapai penerbangan masih dipertanyakan . Dalam menangani keselamatan penumpang serta tindakan Departemen Perhubungan dalam menangani kecelakaan . Regulasi pemerintah dalam mengurangi angka kecelakaan baik itu darat ,laut , dan udara .
Disini pemerintah diuji dalam menangani berbagai kasus dan sudahkan berupaya lebih lanjut untuk mengurangi angka kecelakaan . Pemerintah membuat suatu aturan keamanan dan keselamatan dalam maskapai penerbangan . Tetapi , pemerintah sering terlena dengan undang-undang yang dibuat. Undang-undang disini hanyalah bagian formalitas unuk menyakinkan masyarakat bahwa para petinggi negara masih peduli ?.Kepedulian bentuk apa ? , setiap hitungan waktu , menit ,dan detik angka malah menambah angka kecelakaan .
Intinya , sistem yang dibuat dalam suatu badan tidak dapat dipaksakan . Apalagi menerapkan PP No. 3 tahun 2001 , kelalaian badan maskapai penerbangan adalah pertanda bahwa bangsa ini mengabaikan profesionalistas .Nyawa manusia tidak bisa dipermainkan , apalagi dijadikan tumbal untuk bebas dari multikrisis saat ini.
Kasus kecelakaan transportasi tahun ini memang tidak dapat dianggap main-main. Faktor kecelakaan itu sendiri tidak hanya di sebabkan kesalahan manusia (human error), tetapi kelalaian pemerintah dalam mengawasi sistem transportasi rakyat. Seharusnya, semua alat transportasi yang digunakan bukan barang rongsokan yang tidak layak digunakan.
Kita ambil contoh, misalnya, kereta api modern buatan Jepang yang tak hanya dipakai oleh kalangan atas, tapi juga rakyat kecil. Di Indonesia hari ini, murah berarti kecelakaan
Rakyat adalah tumbal dalam pencapaian kekuasaan, sementara kapitalisme menjamur dan merugikan. Transportasi rakyat murah sebagaimana digemborkan adalah sebuah alasan klise. Aspek keselamatan jalur darat, laut, dan udara merupakan indikator utama mengukur keberhasilan transportasi di Indonesia.
***Elsya Crownia ,Mahasiswi Sastra Inggris ,bergiat dalam Labor Penulisan Kreatif, MPM KM-UA menjabat sebagai Waka II, Fakultas Sastra, Universitas Andalas , Padang
Thursday, December 13, 2007
Home Schooling dan Formal Schooling
Oleh: Elsya Crownia*
Kelihatannya hampir setiap orang prihatin atas rendahnya mutu pendidikan di negeri ini. Selain itu, banyak kita temui anak-anak yang lulus SMP/ SMA yang bingung akan tujuan dan arah hidupnya bahkan, ironisnya seolah-olah mereka kehilangan jati dirinya. Hendak meneruskan kemana?. Itulah sepenggal gambaran pendidikan di negeri ini, bangsa ini seolah-olah tak larut dari masalah SDM. Justru yang diandalkan ahli-ahli dari luar negeri, sedangkan SDM yang ada di negeri ini sama sekali tak tersentuh oleh Pemerintah. Penulis tak bermaksud untuk menghakimi atau mengadili, selama bertahun-tahun penulis menuntut ilmu di negeri ini, penulis selalu merasa prihatin terhadap teman-teman seperjuangan. Mereka kerap kali kehilangan rasa percaya diri dan minimnya dukungan dari lembaga pendidikan dalam memaksimalkan kemampuan para pelajar. Tak heran, jika banyak para pengangguran berjamuran disudut-sudut kota dan desa karena mengimpikan gaji yang tinggi, bukan melihat usaha dan kenapa orang-orang bisa berhasil.
Memang, akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap bakat dan minat para pelajar akibatnya banyak yang ragu-ragu dalam menentukan arah hidupnya. Misalnya, dengan minimnya keterampilan dan kemampuan para siswa hingga akhirnya mereka tak terarah. Baru-baru ini, di Indonesia telah diterapkan sekolah baru yaitu home schooling, umumnya telah diterapkan oleh kaum elit ibukota dan para selebritis. Mereka menganggap bahwa pendidikan home schooling lebih praktis bahkan membantu orang tua mengarahkan anak-anaknya. Menurut data yang penulis temukan di beberapa media massa menyatakan bahwa anak-anak mereka lebih percaya diri, terarah, dan keuntungan home schooling antara lain siswa dapat bermain sambil belajar (50% untuk belajar dan 50% bermain; berguna dalam pengembangan daya tangkap dan saraf motorik siswa) otomatis di lingkungan masyarakat mereka tidak akan terlalu canggung. Artinya, dalam dunia pendidikan tidak hanya belajar secara terus menerus tetapi, mereka juga diajarkan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan sekolah dan masyarakat.Sedangkan, formal schooling masih terikat dengan sistem kompetisi, KBK, CBSA, dan lain sebagainya. Memang, guru membuat proker demi kelancaran tugasnya, selain itu guru diharapkan dapat memahami karakter siswa/i. Karena menurut penulis, siswa/i di formal school mempunyai perbedaan karakter dan minat. Yang menjadi pertanyaan penulis, bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengarahkan bakat dan minat terhadap anak didiknya. Tak heran, mata pelajaran itu sendiri ditentukan oleh guru dan sekolah. Setiap harinya kita dituntut untuk mengambil 6 mata pelajaran dalam sehari. Sau permasalahan dalam sistem ini adalah menyebabkan kebuntuan dan kebosanan yang dialami oleh anak-anak. Wajar, bila kita temui kenakalan remaja disana-sini. Pun, tuntutan dalam mencapai nilai, tanpa ada pembekalan dan keterampilan. Setiap tahun, anak-anak dituntut untuk selalu berpikir keras. Meskipun demikian, formal schooling mampu memberikan pembelajaran sosialisasi, aktualisasi diri. Itu pun, hanya sedikit diminati oleh para siswa. Umumnya, mereka justru ingin lepas dari sistem yang cendrung menentukan dan memaksa sehingga, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk belajar dan mengajar (misalnya, aktulisasi dalam berbagai bidang) dalam mengali dan mengasah bakat dan minat, masih dirasakan kurang. Karena, sistem pendidikan sekolah formal baik itu sekolah dan perguruan tinggi masaih bersifat tuntutan. Tak heran, jika banyak kita temui kasus kriminalitas, seks bebas, kasus narkoba, dan lain sebagainya. Karena, mereka masih menganggap, sekolah adalah tempat untuk belajar saja, namun kurang aktualisasi dan pengembangan diri. Apalagi dalam mengembagkan kreatifitas, dan inovasi masih mereka perhitungan. Seolah-olah sistem pendidikan hanya menuntut siswa harus begini dan begitu. Sedangkan, masih terasa minim aktualisasi diri dan dalam pengambilan jurusan ke pendidikan tinggi, mereka justru semakin kebingungan.
Maraknya pelaksanaan sekolah rumah (home schooling), yaitu rumah dijadikan tempat pembelajaran anak. Anak-anak didampingi dan dibantu orangtua sendiri atau dibantu dalam menguasai pengetahuan/ keterampilan tertentu diberikan dalam proses belajar privat. Pelaksanaan sekolah rumah yang dilakaukan oleh keluarga untuk keperluan anaknya sendiri, yang diwujudkan secara kologial antara dua atau tiga keluarga bagi anak-anak mereka.
Apakah dengan berjamurnya home schooling, ini merupakan reaksi personal terhadap pelaksanaan pendidikan sekolah formal yang dewasa ini serba kacau dan penuh keidak pastian. Wajar bila orang tua mengharapkan keturunannya mendapatkan pendidikan yang memadai bagi kehidupan masa depan. Hal ini jelas tercermin dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa, Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, reaksi warga Indonesia mengadakan sekolah rumah dapat dibuktikan sebagai awal kegagalan misi pendidikan pemerintah Indonesia. Sedangkan, pendidikan privat jenis ini makin marak dan menjadi pengganti sekolah formal, dalam jangka panjang. Nantinya, akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat.
Sedangkan, pendidikan formal yang telah diusahakan oleh pemerintah, termasuk di negara maju, tidak akan memuaskan kehendak orangtua murid untuk memenuhi kebutuhan khusus anak, misalnya anak tersebut berbakat pada bidang musik, atau kegiaan positif-didaktis, jadi orangtua mendatangkn guru musik ke sekolah. Atau upaya meningkatkan daya tangkap anak yang relatif rendah dan lamban untuk pelajaran terntentu maka, orangtua berkewajiban untuk membimbing anak-anaknya. Pembelajaran sekolah rumah (family education) sebagi pengganti formal education, merupakan pelengkap dalam dunia pendidikan. Berdasarkan pengamatan pendidikan Barat, terkesan bahwa ibu-ibu Jepang disebut juga “education mama” disini para ibu-ibu secara terus menerus mendampingi anak-anaknya baik itu ke sekolah maupun kursus, bahkan mereka pun turut mengantarkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Begitu eratnya kerja sama orangtua dalam pendidikan sekolah formal. Orang tua seharusnya sadar akan perannya sebagai guru kedua di rumah setelah ia mengantarkan anaknya di sekolah formal.
Sesungguhnya, apabila kita cermati lebih lanjut. Home schooling justru membnatu anak-anak dengan masalah psikologis, ekonomi, dan geografi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dapat diketahui terhadap sekolah formal, ternyata hanya 70% anak-anak mengalami stres, depresi akibat pendidikan dijalani atau school phobia sehingga, mereka banyak kehilangan waktu untuk mencari jati diri mereka. Padahal, puncak kreatifitas anak di usia 4-5 tahun. Kak Seto mencontohkan Amerika Serikat, akibat school phobia, saat ini ada sekitar 1,8 juta anak yang belajar dengan sistem home schooling dapat diperkirakan meningka hingga juta. Wajar bila kak Seto menyambut baik alternative school ini, dalam memacu kreatifitas anak dan peningkatan SDM. Home Schooling, kata kak Seto, harus berstandar isi dan kompeensi yang sama dengan sekolah formal, agar siswa bisa mengikutievaluasi nasional model ujian nasional. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu mereka dapat melanjutkan kejenjang sekolah formal sekolah tinggi. Maka, hasil evaluasi tersebut digunakan.
Dengan tingginya, tuntutan dalam dunia pendidikan formal biasanya para siswa dapat mengalami depresi, stres, dan struggle. Begitu banyak kasus dalam dunia pendidikan yang seharusnya tidak terjadi di negeri ini, khususnya Ranah Bundo ini. Sehingga, menunjukkan ketimpangan dalam dunia pendidikan. Namun, kalau sistem ini lebih menunjang kreatifitas siswa, mungkin dapat pula diterapkan dalam sekolah formal sehingga, sekolah formal tak dijadikan lagi sebagai penjara dalam pendidikan. Begitu pentingnya, dalam membina keakraban antara guru dan siswa dengan mengadakan diskusi ringan, sehingga mampu mengajarkan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. Kepekaan siswa terhadap permasalahan dalam masyarakat, saat ini muali dirasakan kurang akibat tuntutan dalam dunia pendidikan yang begitu berat.
Kalau dilihat, dari sisi psikologis dan ekonomis semakin lama biaya pendidikan malahan semakin bertambah mahal. Bahkan, gaji guru pun tidak dapat menukupi untuk membiayai pendidikan.Maju dan mundurnya pendidikan, bergantung pada guru. Tidak hanya dari segi kualitas namun juga gaji yang diterima seharusnya sepadan. Sungguh miris, nasib bangsa ini. Guru pun tidak terperhatikan. Padahal, ada beberapa tipe guru cendikia yaitu guru yang selalu mengadakan pengembangan atas ilmu yang diajarkan, textbook adalah guru yang selalu mengandalkan buku-buku tanpa pengembangan dan aktualisasi dari ilmu ( biasanya jenis guru seperti ini mampu menyebabkan siswa depresi dan cepat bosan), dan guru yang hanya mencari pangkat dan jabatan tanpa memikirkan kualitas anak didiknya. Jika, kita hanya memikirkan akan prestise dan kualitas hidup, lantas apakah mungkin negeri ini akan keluar dari krisis SDM yang mengakar hingga sekarang ini. Sudah, sewajarnya bila nasib dan metode pengajaran guru diperhatikan, hal ini juga berguna dalam meningkatkan kualitas guru sebagai pendidik.
*Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Forum Lintas Ilmu dan Labor Penulisan Kreatif, Fakultas Sastra, Universitas Andalas.
Oleh: Elsya Crownia*
Kelihatannya hampir setiap orang prihatin atas rendahnya mutu pendidikan di negeri ini. Selain itu, banyak kita temui anak-anak yang lulus SMP/ SMA yang bingung akan tujuan dan arah hidupnya bahkan, ironisnya seolah-olah mereka kehilangan jati dirinya. Hendak meneruskan kemana?. Itulah sepenggal gambaran pendidikan di negeri ini, bangsa ini seolah-olah tak larut dari masalah SDM. Justru yang diandalkan ahli-ahli dari luar negeri, sedangkan SDM yang ada di negeri ini sama sekali tak tersentuh oleh Pemerintah. Penulis tak bermaksud untuk menghakimi atau mengadili, selama bertahun-tahun penulis menuntut ilmu di negeri ini, penulis selalu merasa prihatin terhadap teman-teman seperjuangan. Mereka kerap kali kehilangan rasa percaya diri dan minimnya dukungan dari lembaga pendidikan dalam memaksimalkan kemampuan para pelajar. Tak heran, jika banyak para pengangguran berjamuran disudut-sudut kota dan desa karena mengimpikan gaji yang tinggi, bukan melihat usaha dan kenapa orang-orang bisa berhasil.
Memang, akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap bakat dan minat para pelajar akibatnya banyak yang ragu-ragu dalam menentukan arah hidupnya. Misalnya, dengan minimnya keterampilan dan kemampuan para siswa hingga akhirnya mereka tak terarah. Baru-baru ini, di Indonesia telah diterapkan sekolah baru yaitu home schooling, umumnya telah diterapkan oleh kaum elit ibukota dan para selebritis. Mereka menganggap bahwa pendidikan home schooling lebih praktis bahkan membantu orang tua mengarahkan anak-anaknya. Menurut data yang penulis temukan di beberapa media massa menyatakan bahwa anak-anak mereka lebih percaya diri, terarah, dan keuntungan home schooling antara lain siswa dapat bermain sambil belajar (50% untuk belajar dan 50% bermain; berguna dalam pengembangan daya tangkap dan saraf motorik siswa) otomatis di lingkungan masyarakat mereka tidak akan terlalu canggung. Artinya, dalam dunia pendidikan tidak hanya belajar secara terus menerus tetapi, mereka juga diajarkan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan sekolah dan masyarakat.Sedangkan, formal schooling masih terikat dengan sistem kompetisi, KBK, CBSA, dan lain sebagainya. Memang, guru membuat proker demi kelancaran tugasnya, selain itu guru diharapkan dapat memahami karakter siswa/i. Karena menurut penulis, siswa/i di formal school mempunyai perbedaan karakter dan minat. Yang menjadi pertanyaan penulis, bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengarahkan bakat dan minat terhadap anak didiknya. Tak heran, mata pelajaran itu sendiri ditentukan oleh guru dan sekolah. Setiap harinya kita dituntut untuk mengambil 6 mata pelajaran dalam sehari. Sau permasalahan dalam sistem ini adalah menyebabkan kebuntuan dan kebosanan yang dialami oleh anak-anak. Wajar, bila kita temui kenakalan remaja disana-sini. Pun, tuntutan dalam mencapai nilai, tanpa ada pembekalan dan keterampilan. Setiap tahun, anak-anak dituntut untuk selalu berpikir keras. Meskipun demikian, formal schooling mampu memberikan pembelajaran sosialisasi, aktualisasi diri. Itu pun, hanya sedikit diminati oleh para siswa. Umumnya, mereka justru ingin lepas dari sistem yang cendrung menentukan dan memaksa sehingga, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk belajar dan mengajar (misalnya, aktulisasi dalam berbagai bidang) dalam mengali dan mengasah bakat dan minat, masih dirasakan kurang. Karena, sistem pendidikan sekolah formal baik itu sekolah dan perguruan tinggi masaih bersifat tuntutan. Tak heran, jika banyak kita temui kasus kriminalitas, seks bebas, kasus narkoba, dan lain sebagainya. Karena, mereka masih menganggap, sekolah adalah tempat untuk belajar saja, namun kurang aktualisasi dan pengembangan diri. Apalagi dalam mengembagkan kreatifitas, dan inovasi masih mereka perhitungan. Seolah-olah sistem pendidikan hanya menuntut siswa harus begini dan begitu. Sedangkan, masih terasa minim aktualisasi diri dan dalam pengambilan jurusan ke pendidikan tinggi, mereka justru semakin kebingungan.
Maraknya pelaksanaan sekolah rumah (home schooling), yaitu rumah dijadikan tempat pembelajaran anak. Anak-anak didampingi dan dibantu orangtua sendiri atau dibantu dalam menguasai pengetahuan/ keterampilan tertentu diberikan dalam proses belajar privat. Pelaksanaan sekolah rumah yang dilakaukan oleh keluarga untuk keperluan anaknya sendiri, yang diwujudkan secara kologial antara dua atau tiga keluarga bagi anak-anak mereka.
Apakah dengan berjamurnya home schooling, ini merupakan reaksi personal terhadap pelaksanaan pendidikan sekolah formal yang dewasa ini serba kacau dan penuh keidak pastian. Wajar bila orang tua mengharapkan keturunannya mendapatkan pendidikan yang memadai bagi kehidupan masa depan. Hal ini jelas tercermin dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa, Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, reaksi warga Indonesia mengadakan sekolah rumah dapat dibuktikan sebagai awal kegagalan misi pendidikan pemerintah Indonesia. Sedangkan, pendidikan privat jenis ini makin marak dan menjadi pengganti sekolah formal, dalam jangka panjang. Nantinya, akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat.
Sedangkan, pendidikan formal yang telah diusahakan oleh pemerintah, termasuk di negara maju, tidak akan memuaskan kehendak orangtua murid untuk memenuhi kebutuhan khusus anak, misalnya anak tersebut berbakat pada bidang musik, atau kegiaan positif-didaktis, jadi orangtua mendatangkn guru musik ke sekolah. Atau upaya meningkatkan daya tangkap anak yang relatif rendah dan lamban untuk pelajaran terntentu maka, orangtua berkewajiban untuk membimbing anak-anaknya. Pembelajaran sekolah rumah (family education) sebagi pengganti formal education, merupakan pelengkap dalam dunia pendidikan. Berdasarkan pengamatan pendidikan Barat, terkesan bahwa ibu-ibu Jepang disebut juga “education mama” disini para ibu-ibu secara terus menerus mendampingi anak-anaknya baik itu ke sekolah maupun kursus, bahkan mereka pun turut mengantarkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Begitu eratnya kerja sama orangtua dalam pendidikan sekolah formal. Orang tua seharusnya sadar akan perannya sebagai guru kedua di rumah setelah ia mengantarkan anaknya di sekolah formal.
Sesungguhnya, apabila kita cermati lebih lanjut. Home schooling justru membnatu anak-anak dengan masalah psikologis, ekonomi, dan geografi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dapat diketahui terhadap sekolah formal, ternyata hanya 70% anak-anak mengalami stres, depresi akibat pendidikan dijalani atau school phobia sehingga, mereka banyak kehilangan waktu untuk mencari jati diri mereka. Padahal, puncak kreatifitas anak di usia 4-5 tahun. Kak Seto mencontohkan Amerika Serikat, akibat school phobia, saat ini ada sekitar 1,8 juta anak yang belajar dengan sistem home schooling dapat diperkirakan meningka hingga juta. Wajar bila kak Seto menyambut baik alternative school ini, dalam memacu kreatifitas anak dan peningkatan SDM. Home Schooling, kata kak Seto, harus berstandar isi dan kompeensi yang sama dengan sekolah formal, agar siswa bisa mengikutievaluasi nasional model ujian nasional. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu mereka dapat melanjutkan kejenjang sekolah formal sekolah tinggi. Maka, hasil evaluasi tersebut digunakan.
Dengan tingginya, tuntutan dalam dunia pendidikan formal biasanya para siswa dapat mengalami depresi, stres, dan struggle. Begitu banyak kasus dalam dunia pendidikan yang seharusnya tidak terjadi di negeri ini, khususnya Ranah Bundo ini. Sehingga, menunjukkan ketimpangan dalam dunia pendidikan. Namun, kalau sistem ini lebih menunjang kreatifitas siswa, mungkin dapat pula diterapkan dalam sekolah formal sehingga, sekolah formal tak dijadikan lagi sebagai penjara dalam pendidikan. Begitu pentingnya, dalam membina keakraban antara guru dan siswa dengan mengadakan diskusi ringan, sehingga mampu mengajarkan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. Kepekaan siswa terhadap permasalahan dalam masyarakat, saat ini muali dirasakan kurang akibat tuntutan dalam dunia pendidikan yang begitu berat.
Kalau dilihat, dari sisi psikologis dan ekonomis semakin lama biaya pendidikan malahan semakin bertambah mahal. Bahkan, gaji guru pun tidak dapat menukupi untuk membiayai pendidikan.Maju dan mundurnya pendidikan, bergantung pada guru. Tidak hanya dari segi kualitas namun juga gaji yang diterima seharusnya sepadan. Sungguh miris, nasib bangsa ini. Guru pun tidak terperhatikan. Padahal, ada beberapa tipe guru cendikia yaitu guru yang selalu mengadakan pengembangan atas ilmu yang diajarkan, textbook adalah guru yang selalu mengandalkan buku-buku tanpa pengembangan dan aktualisasi dari ilmu ( biasanya jenis guru seperti ini mampu menyebabkan siswa depresi dan cepat bosan), dan guru yang hanya mencari pangkat dan jabatan tanpa memikirkan kualitas anak didiknya. Jika, kita hanya memikirkan akan prestise dan kualitas hidup, lantas apakah mungkin negeri ini akan keluar dari krisis SDM yang mengakar hingga sekarang ini. Sudah, sewajarnya bila nasib dan metode pengajaran guru diperhatikan, hal ini juga berguna dalam meningkatkan kualitas guru sebagai pendidik.
*Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Forum Lintas Ilmu dan Labor Penulisan Kreatif, Fakultas Sastra, Universitas Andalas.
Home Schooling dan Formal Schooling
Oleh: Elsya Crownia*
Kelihatannya hampir setiap orang prihatin atas rendahnya mutu pendidikan di negeri ini. Selain itu, banyak kita temui anak-anak yang lulus SMP/ SMA yang bingung akan tujuan dan arah hidupnya bahkan, ironisnya seolah-olah mereka kehilangan jati dirinya. Hendak meneruskan kemana?. Itulah sepenggal gambaran pendidikan di negeri ini, bangsa ini seolah-olah tak larut dari masalah SDM. Justru yang diandalkan ahli-ahli dari luar negeri, sedangkan SDM yang ada di negeri ini sama sekali tak tersentuh oleh Pemerintah. Penulis tak bermaksud untuk menghakimi atau mengadili, selama bertahun-tahun penulis menuntut ilmu di negeri ini, penulis selalu merasa prihatin terhadap teman-teman seperjuangan. Mereka kerap kali kehilangan rasa percaya diri dan minimnya dukungan dari lembaga pendidikan dalam memaksimalkan kemampuan para pelajar. Tak heran, jika banyak para pengangguran berjamuran disudut-sudut kota dan desa karena mengimpikan gaji yang tinggi, bukan melihat usaha dan kenapa orang-orang bisa berhasil.
Memang, akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap bakat dan minat para pelajar akibatnya banyak yang ragu-ragu dalam menentukan arah hidupnya. Misalnya, dengan minimnya keterampilan dan kemampuan para siswa hingga akhirnya mereka tak terarah. Baru-baru ini, di Indonesia telah diterapkan sekolah baru yaitu home schooling, umumnya telah diterapkan oleh kaum elit ibukota dan para selebritis. Mereka menganggap bahwa pendidikan home schooling lebih praktis bahkan membantu orang tua mengarahkan anak-anaknya. Menurut data yang penulis temukan di beberapa media massa menyatakan bahwa anak-anak mereka lebih percaya diri, terarah, dan keuntungan home schooling antara lain siswa dapat bermain sambil belajar (50% untuk belajar dan 50% bermain; berguna dalam pengembangan daya tangkap dan saraf motorik siswa) otomatis di lingkungan masyarakat mereka tidak akan terlalu canggung. Artinya, dalam dunia pendidikan tidak hanya belajar secara terus menerus tetapi, mereka juga diajarkan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan sekolah dan masyarakat.Sedangkan, formal schooling masih terikat dengan sistem kompetisi, KBK, CBSA, dan lain sebagainya. Memang, guru membuat proker demi kelancaran tugasnya, selain itu guru diharapkan dapat memahami karakter siswa/i. Karena menurut penulis, siswa/i di formal school mempunyai perbedaan karakter dan minat. Yang menjadi pertanyaan penulis, bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengarahkan bakat dan minat terhadap anak didiknya. Tak heran, mata pelajaran itu sendiri ditentukan oleh guru dan sekolah. Setiap harinya kita dituntut untuk mengambil 6 mata pelajaran dalam sehari. Sau permasalahan dalam sistem ini adalah menyebabkan kebuntuan dan kebosanan yang dialami oleh anak-anak. Wajar, bila kita temui kenakalan remaja disana-sini. Pun, tuntutan dalam mencapai nilai, tanpa ada pembekalan dan keterampilan. Setiap tahun, anak-anak dituntut untuk selalu berpikir keras. Meskipun demikian, formal schooling mampu memberikan pembelajaran sosialisasi, aktualisasi diri. Itu pun, hanya sedikit diminati oleh para siswa. Umumnya, mereka justru ingin lepas dari sistem yang cendrung menentukan dan memaksa sehingga, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk belajar dan mengajar (misalnya, aktulisasi dalam berbagai bidang) dalam mengali dan mengasah bakat dan minat, masih dirasakan kurang. Karena, sistem pendidikan sekolah formal baik itu sekolah dan perguruan tinggi masaih bersifat tuntutan. Tak heran, jika banyak kita temui kasus kriminalitas, seks bebas, kasus narkoba, dan lain sebagainya. Karena, mereka masih menganggap, sekolah adalah tempat untuk belajar saja, namun kurang aktualisasi dan pengembangan diri. Apalagi dalam mengembagkan kreatifitas, dan inovasi masih mereka perhitungan. Seolah-olah sistem pendidikan hanya menuntut siswa harus begini dan begitu. Sedangkan, masih terasa minim aktualisasi diri dan dalam pengambilan jurusan ke pendidikan tinggi, mereka justru semakin kebingungan.
Maraknya pelaksanaan sekolah rumah (home schooling), yaitu rumah dijadikan tempat pembelajaran anak. Anak-anak didampingi dan dibantu orangtua sendiri atau dibantu dalam menguasai pengetahuan/ keterampilan tertentu diberikan dalam proses belajar privat. Pelaksanaan sekolah rumah yang dilakaukan oleh keluarga untuk keperluan anaknya sendiri, yang diwujudkan secara kologial antara dua atau tiga keluarga bagi anak-anak mereka.
Apakah dengan berjamurnya home schooling, ini merupakan reaksi personal terhadap pelaksanaan pendidikan sekolah formal yang dewasa ini serba kacau dan penuh keidak pastian. Wajar bila orang tua mengharapkan keturunannya mendapatkan pendidikan yang memadai bagi kehidupan masa depan. Hal ini jelas tercermin dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa, Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, reaksi warga Indonesia mengadakan sekolah rumah dapat dibuktikan sebagai awal kegagalan misi pendidikan pemerintah Indonesia. Sedangkan, pendidikan privat jenis ini makin marak dan menjadi pengganti sekolah formal, dalam jangka panjang. Nantinya, akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat.
Sedangkan, pendidikan formal yang telah diusahakan oleh pemerintah, termasuk di negara maju, tidak akan memuaskan kehendak orangtua murid untuk memenuhi kebutuhan khusus anak, misalnya anak tersebut berbakat pada bidang musik, atau kegiaan positif-didaktis, jadi orangtua mendatangkn guru musik ke sekolah. Atau upaya meningkatkan daya tangkap anak yang relatif rendah dan lamban untuk pelajaran terntentu maka, orangtua berkewajiban untuk membimbing anak-anaknya. Pembelajaran sekolah rumah (family education) sebagi pengganti formal education, merupakan pelengkap dalam dunia pendidikan. Berdasarkan pengamatan pendidikan Barat, terkesan bahwa ibu-ibu Jepang disebut juga “education mama” disini para ibu-ibu secara terus menerus mendampingi anak-anaknya baik itu ke sekolah maupun kursus, bahkan mereka pun turut mengantarkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Begitu eratnya kerja sama orangtua dalam pendidikan sekolah formal. Orang tua seharusnya sadar akan perannya sebagai guru kedua di rumah setelah ia mengantarkan anaknya di sekolah formal.
Sesungguhnya, apabila kita cermati lebih lanjut. Home schooling justru membnatu anak-anak dengan masalah psikologis, ekonomi, dan geografi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dapat diketahui terhadap sekolah formal, ternyata hanya 70% anak-anak mengalami stres, depresi akibat pendidikan dijalani atau school phobia sehingga, mereka banyak kehilangan waktu untuk mencari jati diri mereka. Padahal, puncak kreatifitas anak di usia 4-5 tahun. Kak Seto mencontohkan Amerika Serikat, akibat school phobia, saat ini ada sekitar 1,8 juta anak yang belajar dengan sistem home schooling dapat diperkirakan meningka hingga juta. Wajar bila kak Seto menyambut baik alternative school ini, dalam memacu kreatifitas anak dan peningkatan SDM. Home Schooling, kata kak Seto, harus berstandar isi dan kompeensi yang sama dengan sekolah formal, agar siswa bisa mengikutievaluasi nasional model ujian nasional. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu mereka dapat melanjutkan kejenjang sekolah formal sekolah tinggi. Maka, hasil evaluasi tersebut digunakan.
Dengan tingginya, tuntutan dalam dunia pendidikan formal biasanya para siswa dapat mengalami depresi, stres, dan struggle. Begitu banyak kasus dalam dunia pendidikan yang seharusnya tidak terjadi di negeri ini, khususnya Ranah Bundo ini. Sehingga, menunjukkan ketimpangan dalam dunia pendidikan. Namun, kalau sistem ini lebih menunjang kreatifitas siswa, mungkin dapat pula diterapkan dalam sekolah formal sehingga, sekolah formal tak dijadikan lagi sebagai penjara dalam pendidikan. Begitu pentingnya, dalam membina keakraban antara guru dan siswa dengan mengadakan diskusi ringan, sehingga mampu mengajarkan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. Kepekaan siswa terhadap permasalahan dalam masyarakat, saat ini muali dirasakan kurang akibat tuntutan dalam dunia pendidikan yang begitu berat.
Kalau dilihat, dari sisi psikologis dan ekonomis semakin lama biaya pendidikan malahan semakin bertambah mahal. Bahkan, gaji guru pun tidak dapat menukupi untuk membiayai pendidikan.Maju dan mundurnya pendidikan, bergantung pada guru. Tidak hanya dari segi kualitas namun juga gaji yang diterima seharusnya sepadan. Sungguh miris, nasib bangsa ini. Guru pun tidak terperhatikan. Padahal, ada beberapa tipe guru cendikia yaitu guru yang selalu mengadakan pengembangan atas ilmu yang diajarkan, textbook adalah guru yang selalu mengandalkan buku-buku tanpa pengembangan dan aktualisasi dari ilmu ( biasanya jenis guru seperti ini mampu menyebabkan siswa depresi dan cepat bosan), dan guru yang hanya mencari pangkat dan jabatan tanpa memikirkan kualitas anak didiknya. Jika, kita hanya memikirkan akan prestise dan kualitas hidup, lantas apakah mungkin negeri ini akan keluar dari krisis SDM yang mengakar hingga sekarang ini. Sudah, sewajarnya bila nasib dan metode pengajaran guru diperhatikan, hal ini juga berguna dalam meningkatkan kualitas guru sebagai pendidik.
*Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Forum Lintas Ilmu dan Labor Penulisan Kreatif, Fakultas Sastra, Universitas Andalas.
Oleh: Elsya Crownia*
Kelihatannya hampir setiap orang prihatin atas rendahnya mutu pendidikan di negeri ini. Selain itu, banyak kita temui anak-anak yang lulus SMP/ SMA yang bingung akan tujuan dan arah hidupnya bahkan, ironisnya seolah-olah mereka kehilangan jati dirinya. Hendak meneruskan kemana?. Itulah sepenggal gambaran pendidikan di negeri ini, bangsa ini seolah-olah tak larut dari masalah SDM. Justru yang diandalkan ahli-ahli dari luar negeri, sedangkan SDM yang ada di negeri ini sama sekali tak tersentuh oleh Pemerintah. Penulis tak bermaksud untuk menghakimi atau mengadili, selama bertahun-tahun penulis menuntut ilmu di negeri ini, penulis selalu merasa prihatin terhadap teman-teman seperjuangan. Mereka kerap kali kehilangan rasa percaya diri dan minimnya dukungan dari lembaga pendidikan dalam memaksimalkan kemampuan para pelajar. Tak heran, jika banyak para pengangguran berjamuran disudut-sudut kota dan desa karena mengimpikan gaji yang tinggi, bukan melihat usaha dan kenapa orang-orang bisa berhasil.
Memang, akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap bakat dan minat para pelajar akibatnya banyak yang ragu-ragu dalam menentukan arah hidupnya. Misalnya, dengan minimnya keterampilan dan kemampuan para siswa hingga akhirnya mereka tak terarah. Baru-baru ini, di Indonesia telah diterapkan sekolah baru yaitu home schooling, umumnya telah diterapkan oleh kaum elit ibukota dan para selebritis. Mereka menganggap bahwa pendidikan home schooling lebih praktis bahkan membantu orang tua mengarahkan anak-anaknya. Menurut data yang penulis temukan di beberapa media massa menyatakan bahwa anak-anak mereka lebih percaya diri, terarah, dan keuntungan home schooling antara lain siswa dapat bermain sambil belajar (50% untuk belajar dan 50% bermain; berguna dalam pengembangan daya tangkap dan saraf motorik siswa) otomatis di lingkungan masyarakat mereka tidak akan terlalu canggung. Artinya, dalam dunia pendidikan tidak hanya belajar secara terus menerus tetapi, mereka juga diajarkan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan sekolah dan masyarakat.Sedangkan, formal schooling masih terikat dengan sistem kompetisi, KBK, CBSA, dan lain sebagainya. Memang, guru membuat proker demi kelancaran tugasnya, selain itu guru diharapkan dapat memahami karakter siswa/i. Karena menurut penulis, siswa/i di formal school mempunyai perbedaan karakter dan minat. Yang menjadi pertanyaan penulis, bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengarahkan bakat dan minat terhadap anak didiknya. Tak heran, mata pelajaran itu sendiri ditentukan oleh guru dan sekolah. Setiap harinya kita dituntut untuk mengambil 6 mata pelajaran dalam sehari. Sau permasalahan dalam sistem ini adalah menyebabkan kebuntuan dan kebosanan yang dialami oleh anak-anak. Wajar, bila kita temui kenakalan remaja disana-sini. Pun, tuntutan dalam mencapai nilai, tanpa ada pembekalan dan keterampilan. Setiap tahun, anak-anak dituntut untuk selalu berpikir keras. Meskipun demikian, formal schooling mampu memberikan pembelajaran sosialisasi, aktualisasi diri. Itu pun, hanya sedikit diminati oleh para siswa. Umumnya, mereka justru ingin lepas dari sistem yang cendrung menentukan dan memaksa sehingga, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk belajar dan mengajar (misalnya, aktulisasi dalam berbagai bidang) dalam mengali dan mengasah bakat dan minat, masih dirasakan kurang. Karena, sistem pendidikan sekolah formal baik itu sekolah dan perguruan tinggi masaih bersifat tuntutan. Tak heran, jika banyak kita temui kasus kriminalitas, seks bebas, kasus narkoba, dan lain sebagainya. Karena, mereka masih menganggap, sekolah adalah tempat untuk belajar saja, namun kurang aktualisasi dan pengembangan diri. Apalagi dalam mengembagkan kreatifitas, dan inovasi masih mereka perhitungan. Seolah-olah sistem pendidikan hanya menuntut siswa harus begini dan begitu. Sedangkan, masih terasa minim aktualisasi diri dan dalam pengambilan jurusan ke pendidikan tinggi, mereka justru semakin kebingungan.
Maraknya pelaksanaan sekolah rumah (home schooling), yaitu rumah dijadikan tempat pembelajaran anak. Anak-anak didampingi dan dibantu orangtua sendiri atau dibantu dalam menguasai pengetahuan/ keterampilan tertentu diberikan dalam proses belajar privat. Pelaksanaan sekolah rumah yang dilakaukan oleh keluarga untuk keperluan anaknya sendiri, yang diwujudkan secara kologial antara dua atau tiga keluarga bagi anak-anak mereka.
Apakah dengan berjamurnya home schooling, ini merupakan reaksi personal terhadap pelaksanaan pendidikan sekolah formal yang dewasa ini serba kacau dan penuh keidak pastian. Wajar bila orang tua mengharapkan keturunannya mendapatkan pendidikan yang memadai bagi kehidupan masa depan. Hal ini jelas tercermin dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa, Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, reaksi warga Indonesia mengadakan sekolah rumah dapat dibuktikan sebagai awal kegagalan misi pendidikan pemerintah Indonesia. Sedangkan, pendidikan privat jenis ini makin marak dan menjadi pengganti sekolah formal, dalam jangka panjang. Nantinya, akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat.
Sedangkan, pendidikan formal yang telah diusahakan oleh pemerintah, termasuk di negara maju, tidak akan memuaskan kehendak orangtua murid untuk memenuhi kebutuhan khusus anak, misalnya anak tersebut berbakat pada bidang musik, atau kegiaan positif-didaktis, jadi orangtua mendatangkn guru musik ke sekolah. Atau upaya meningkatkan daya tangkap anak yang relatif rendah dan lamban untuk pelajaran terntentu maka, orangtua berkewajiban untuk membimbing anak-anaknya. Pembelajaran sekolah rumah (family education) sebagi pengganti formal education, merupakan pelengkap dalam dunia pendidikan. Berdasarkan pengamatan pendidikan Barat, terkesan bahwa ibu-ibu Jepang disebut juga “education mama” disini para ibu-ibu secara terus menerus mendampingi anak-anaknya baik itu ke sekolah maupun kursus, bahkan mereka pun turut mengantarkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Begitu eratnya kerja sama orangtua dalam pendidikan sekolah formal. Orang tua seharusnya sadar akan perannya sebagai guru kedua di rumah setelah ia mengantarkan anaknya di sekolah formal.
Sesungguhnya, apabila kita cermati lebih lanjut. Home schooling justru membnatu anak-anak dengan masalah psikologis, ekonomi, dan geografi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dapat diketahui terhadap sekolah formal, ternyata hanya 70% anak-anak mengalami stres, depresi akibat pendidikan dijalani atau school phobia sehingga, mereka banyak kehilangan waktu untuk mencari jati diri mereka. Padahal, puncak kreatifitas anak di usia 4-5 tahun. Kak Seto mencontohkan Amerika Serikat, akibat school phobia, saat ini ada sekitar 1,8 juta anak yang belajar dengan sistem home schooling dapat diperkirakan meningka hingga juta. Wajar bila kak Seto menyambut baik alternative school ini, dalam memacu kreatifitas anak dan peningkatan SDM. Home Schooling, kata kak Seto, harus berstandar isi dan kompeensi yang sama dengan sekolah formal, agar siswa bisa mengikutievaluasi nasional model ujian nasional. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu mereka dapat melanjutkan kejenjang sekolah formal sekolah tinggi. Maka, hasil evaluasi tersebut digunakan.
Dengan tingginya, tuntutan dalam dunia pendidikan formal biasanya para siswa dapat mengalami depresi, stres, dan struggle. Begitu banyak kasus dalam dunia pendidikan yang seharusnya tidak terjadi di negeri ini, khususnya Ranah Bundo ini. Sehingga, menunjukkan ketimpangan dalam dunia pendidikan. Namun, kalau sistem ini lebih menunjang kreatifitas siswa, mungkin dapat pula diterapkan dalam sekolah formal sehingga, sekolah formal tak dijadikan lagi sebagai penjara dalam pendidikan. Begitu pentingnya, dalam membina keakraban antara guru dan siswa dengan mengadakan diskusi ringan, sehingga mampu mengajarkan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. Kepekaan siswa terhadap permasalahan dalam masyarakat, saat ini muali dirasakan kurang akibat tuntutan dalam dunia pendidikan yang begitu berat.
Kalau dilihat, dari sisi psikologis dan ekonomis semakin lama biaya pendidikan malahan semakin bertambah mahal. Bahkan, gaji guru pun tidak dapat menukupi untuk membiayai pendidikan.Maju dan mundurnya pendidikan, bergantung pada guru. Tidak hanya dari segi kualitas namun juga gaji yang diterima seharusnya sepadan. Sungguh miris, nasib bangsa ini. Guru pun tidak terperhatikan. Padahal, ada beberapa tipe guru cendikia yaitu guru yang selalu mengadakan pengembangan atas ilmu yang diajarkan, textbook adalah guru yang selalu mengandalkan buku-buku tanpa pengembangan dan aktualisasi dari ilmu ( biasanya jenis guru seperti ini mampu menyebabkan siswa depresi dan cepat bosan), dan guru yang hanya mencari pangkat dan jabatan tanpa memikirkan kualitas anak didiknya. Jika, kita hanya memikirkan akan prestise dan kualitas hidup, lantas apakah mungkin negeri ini akan keluar dari krisis SDM yang mengakar hingga sekarang ini. Sudah, sewajarnya bila nasib dan metode pengajaran guru diperhatikan, hal ini juga berguna dalam meningkatkan kualitas guru sebagai pendidik.
*Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Forum Lintas Ilmu dan Labor Penulisan Kreatif, Fakultas Sastra, Universitas Andalas.
Tolkien (mitos) dalam The Lord of The Ring
Oleh: Elsya Crownia
Dalam kepungan gelap sekalipun selalu ada terang ( J.R.R Tolkien, Lord of The Ring ). Film Lord of The Ring, yang mengisahkan perjalanan, dan petualangan Frodo untuk memusnahkan cincin ke gunung Doom. Pada akhirnya, kebenaran akan selalu menghalau kejahatan. Memang, kejahatan selalu menghantui kebenaran. Hingga, kebenaran terlihat samar. Seolah-olah, tiada yang berkuasa kecuali kejahatan. Kejahatan telah merajai hidup dan tak tampak lagi kebenaran.
Inspirasi Tolkien terhadap dunia fantasi yang menyajikan ide-ide segar dan dihidupkan kembali diantaranya Middle earth, dwarf, orc, hobbit, elves, gollum, troll, dan balrog. Ide cerita dalam film tersebut umumnya mengacu pada mitologi Nordik atau lebih dikenal sebagai mitologi Eropa Utara. Namun, ekplorasi ide penceritaan lebih cendrung mencenkram masa. Tolkien begitu berpengaruh dalam mengembangkan ide-ide fantasi dan orang-orang cendrung bercengkrama dengan fantasi epik. Tolkien sangat menikmati dalam menulis naskah tersebut. Seakan-akan, pikiran Tolkien berpadu dalam irama penulisan cerita.
Dalam karya-karya Tolkien, terdapat semangat, imajinasi, dan kecerdasan spritual yang mampu menerobos hati manusia. Meskipun, dalam cerita bergenre fantasi epik. The Hobbit, terbit pada 1937, dan seketika mengubah lanskap cerita fantasi yang sudah ada sebelumnya. Penciptaan Middle-earth beserta para penghuninya berdasarkan mitologi yang hidup ketika itu seolah-olah menjadi bahan siap pakai bagi para penulis sesudahnya. Tapi The Lord of the Rings-lah yang memastikan bahwa Tolkien, dalam kata-kata George R.R. Martin, penulis cerita fantasi yang ikut mengembangkan serial televisi Beauty and the Beast, telah mewujudkan "sebuah semesta sekunder yang benar-benar disadari, sebuah dunia utuh dengan geografinya, sejarahnya, dan legendanya sendiri, sepenuhnya lepas dari dunia kita, tapi rasanya seperti nyata".
The Letters of J.R.R. Tolkien hasil suntingan Humphrey Carpenter, Tolkien menjelaskan bahwa istilah Middle-earth ditemukan dalam bahasa Inggris kuno, yakni middangeard, midden-erd, atau Midgard. Ada padanannya dalam bahasa Latin: Mediterranean (dari medi, tengah, dan terra, bumi). Semua istilah ini merujuk bukan saja pada pengertian dunia fisik (lawan dari dunia "lain"), tapi juga dunia ini, tempat manusia tinggal. Dalam rekaan Tolkien, Middle-earth adalah bumi pada periode 6.000 hingga 7.000 tahun silam. Inilah dunia yang digambarkan dalam buku-buku The Hobbit, The Lord of the Rings, dan The Silmarillion (yang diterbitkan pada 1977, empat tahun setelah Tolkien meninggal). Meski beda zaman, lokasi kejadian-kejadian di tiga buku ini adalah bagian barat daya dari Middle-earth, yang disebut Eropa pada masa modern. Sejumlah ras dan spesies tinggal di Middle-earth, dengan asal-usul, bahasa, dan budaya masing-masing. Mula-mula adalah ainur, makhluk suci (malaikat) yang diciptakan oleh Iluvatar (Tuhan). Ainur ikut membantu Iluvatar menciptakan Arda (bumi). Kelak sebagian dari ainur tinggal di Arda, yang terbaik disebut valar (Morgoth atau Melkor, representasi kejahatan di Middle-earth, satu di antaranya), yang lebih rendah disebut maiar (manusia menyebut mereka penyihir; Gandalf dan Saruman, yang muncul di The Lord of the Rings, termasuk di antaranya). Selain itu, ada maiar jahat, antara lain balrog dan Sauron, Sang Penguasa Kegelapan.Manusia dan elves adalah "anak-anak" Iluvatar, yang diciptakan sendiri oleh Iluvatar. Hobbit, pencerita sekaligus pemeran utama baik dalam The Hobbit maupun The Lord of the Rings, dideskripsikan sebagai keturunan manusia meskipun tak pernah bisa diketahui bagaimana secara genealogi mereka bertautan.
Posisi istimewa ada pada dwarves. Makhluk mirip manusia bertubuh pendek ini bukan ciptaan Iluvatar, tapi hasil kreasi valar bernama Aule, yang kemudian mempersembahkan ciptaannya kepada Iluvatar. Iluvatar menerima persembahan ini, lalu memberinya kehidupan dan kehendak bebas. Untuk mengimbangi dwarves, Iluvatar menciptakan ent, penjaga pepohonan.
Penghuni-penghuni yang lain di antaranya adalah orc dan troll, makhluk jahat hasil rekayasa Morgoth; mereka bukan kreasi orisinal, tapi "tiruan" elves dan ent. Asal-usul mereka tak jelas; setidaknya beberapa di antara mereka dihidupkan dari manusia dan elves yang cacat. Selain mereka, ada pula bermacam satwa di antaranya adalah wujud lain maiar, atau keturunan maiar.
Semua hal itu memang berskala besar dan menunjukkan betapa Tolkien berada dalam posisi sekaligus seperti Sang Pencipta. Tolkien sendiri mulanya tak pernah berniat untuk melakukannya. Setelah The Hobbit, ia baru mulai mereka-reka cerita lain yang juga tentang hobbit karena desakan penerbitnya, dia mulai menulis cerita tersebut pada tahun 1930. Proses penulisan cerita baru ini berlangsung lamban; Tolkien ingin segalanya sempurna. Dari surat-suratnya, Tolkien memang melihat pekerjaannya sebagai sebuah sub-penciptaan dan dirinya sebagai sub-pencipta dia percaya bahwa memang tugasnyalah untuk menciptakan cerita.
Gagasan bagi fantasi besar itu, khususnya The Lord of the Rings, tak lepas dari cara Tolkien memandang kehidupan, dengan pendekatan Katolik, di samping minat profesionalnya pada studi bahasa (filologi) dan mitologi. "Tentu saja secara mendasar karya itu memang (bersifat) religius dan Katolik," kata Tolkien dalam satu suratnya. "Begitulah mula-mula secara tak sadar, tapi (begitu pula) secara sadar setelah revisi.... Unsur-unsur agama terserap ke dalam cerita dan simbolisme.
Menurut Humprey Carpenter mitos dapat membuat manusia tersesat sedangkan menurut Tolkien berpendapat bahwa mitos bukan hanya sekedar rekaan semata tetapi, hanya dengan mitos kita dapat menyampaikan kebenaran. Sayangnya, Tolkien membantah bahwa mitos bukanlah kebohongan.
Tolkien menjelaskan, sebagai mahkluk Tuhan, manusia merajut mitos sebagai cermin fragmen cahaya sejati, kebenaran abadi yang ada pada Tuhan. "Mitos bisa saja tersesat, tapi betapapun goyah, mitos membawa kepada pelabuhan sejati, sedangkan “kemajuan” materialistis hanya mengajak ke jurang dan kuasa jahat."
Dalam kasus The Lord of the Rings, Carpenter menjelaskan, nilai-nilai yang muncul adalah nilai-nilai keagamaan .Tanpa menyebut Tuhan, Tolkien menunjukkan kekuasaan-Nya lewat setiap tikungan dalam pola sejarah. Ia tak menyebut Aragorn dan Gandalf sebagai malaikat penolong cukup dengan memperlihatkan bahwa mereka mewakili harapan dan kekuatannya, termasuk kembalinya Gandalf secara menakjubkan dari kematian. Sama halnya dengan Frodo. Tanpa harus menjadi seorang Kristiani, melalui tindakannya, Frodo menyingkapkan makna sejati kehidupan Kristiani.Lebih dari itu, masih menurut Humphrey, sesungguhnya bukan Frodo hobbit pemikul beban tugas memusnahkan Cincin Utama di Gunung Doom yang menyelamatkan Middle-earth, dan bukan pula Gollum. Tapi sang penyelamat adalah Sesuatu yang bekerja melalui kasih dan kemerdekaan mahkluknya, yang "mengampuni kita karena pelanggaran-pelanggaran kita, 'pada saat kita memaafkan mereka yang melanggar (hak-hak) kita'".
Sepanjang kisah dalam The Lord of the Rings, kuasa kejahatan tampak begitu digdaya, tapi tidak maha kuat. Selalu terasa bahwa kekuasaan agung setiap saat berada di samping para penentang Sang Penguasa Kegelapan dan bahwa, pada akhirnya, akan berjaya menghadapi segala bentuk kejahatan.Begitu juga dalam kehidupan, yang tidak dapat dipisahkan dari keduanya. Keduanya saling berdampingan.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris , bergiat Labor Penulisan Kreatif, Fakultas Sastra, Universitas Andalas
Oleh: Elsya Crownia
Dalam kepungan gelap sekalipun selalu ada terang ( J.R.R Tolkien, Lord of The Ring ). Film Lord of The Ring, yang mengisahkan perjalanan, dan petualangan Frodo untuk memusnahkan cincin ke gunung Doom. Pada akhirnya, kebenaran akan selalu menghalau kejahatan. Memang, kejahatan selalu menghantui kebenaran. Hingga, kebenaran terlihat samar. Seolah-olah, tiada yang berkuasa kecuali kejahatan. Kejahatan telah merajai hidup dan tak tampak lagi kebenaran.
Inspirasi Tolkien terhadap dunia fantasi yang menyajikan ide-ide segar dan dihidupkan kembali diantaranya Middle earth, dwarf, orc, hobbit, elves, gollum, troll, dan balrog. Ide cerita dalam film tersebut umumnya mengacu pada mitologi Nordik atau lebih dikenal sebagai mitologi Eropa Utara. Namun, ekplorasi ide penceritaan lebih cendrung mencenkram masa. Tolkien begitu berpengaruh dalam mengembangkan ide-ide fantasi dan orang-orang cendrung bercengkrama dengan fantasi epik. Tolkien sangat menikmati dalam menulis naskah tersebut. Seakan-akan, pikiran Tolkien berpadu dalam irama penulisan cerita.
Dalam karya-karya Tolkien, terdapat semangat, imajinasi, dan kecerdasan spritual yang mampu menerobos hati manusia. Meskipun, dalam cerita bergenre fantasi epik. The Hobbit, terbit pada 1937, dan seketika mengubah lanskap cerita fantasi yang sudah ada sebelumnya. Penciptaan Middle-earth beserta para penghuninya berdasarkan mitologi yang hidup ketika itu seolah-olah menjadi bahan siap pakai bagi para penulis sesudahnya. Tapi The Lord of the Rings-lah yang memastikan bahwa Tolkien, dalam kata-kata George R.R. Martin, penulis cerita fantasi yang ikut mengembangkan serial televisi Beauty and the Beast, telah mewujudkan "sebuah semesta sekunder yang benar-benar disadari, sebuah dunia utuh dengan geografinya, sejarahnya, dan legendanya sendiri, sepenuhnya lepas dari dunia kita, tapi rasanya seperti nyata".
The Letters of J.R.R. Tolkien hasil suntingan Humphrey Carpenter, Tolkien menjelaskan bahwa istilah Middle-earth ditemukan dalam bahasa Inggris kuno, yakni middangeard, midden-erd, atau Midgard. Ada padanannya dalam bahasa Latin: Mediterranean (dari medi, tengah, dan terra, bumi). Semua istilah ini merujuk bukan saja pada pengertian dunia fisik (lawan dari dunia "lain"), tapi juga dunia ini, tempat manusia tinggal. Dalam rekaan Tolkien, Middle-earth adalah bumi pada periode 6.000 hingga 7.000 tahun silam. Inilah dunia yang digambarkan dalam buku-buku The Hobbit, The Lord of the Rings, dan The Silmarillion (yang diterbitkan pada 1977, empat tahun setelah Tolkien meninggal). Meski beda zaman, lokasi kejadian-kejadian di tiga buku ini adalah bagian barat daya dari Middle-earth, yang disebut Eropa pada masa modern. Sejumlah ras dan spesies tinggal di Middle-earth, dengan asal-usul, bahasa, dan budaya masing-masing. Mula-mula adalah ainur, makhluk suci (malaikat) yang diciptakan oleh Iluvatar (Tuhan). Ainur ikut membantu Iluvatar menciptakan Arda (bumi). Kelak sebagian dari ainur tinggal di Arda, yang terbaik disebut valar (Morgoth atau Melkor, representasi kejahatan di Middle-earth, satu di antaranya), yang lebih rendah disebut maiar (manusia menyebut mereka penyihir; Gandalf dan Saruman, yang muncul di The Lord of the Rings, termasuk di antaranya). Selain itu, ada maiar jahat, antara lain balrog dan Sauron, Sang Penguasa Kegelapan.Manusia dan elves adalah "anak-anak" Iluvatar, yang diciptakan sendiri oleh Iluvatar. Hobbit, pencerita sekaligus pemeran utama baik dalam The Hobbit maupun The Lord of the Rings, dideskripsikan sebagai keturunan manusia meskipun tak pernah bisa diketahui bagaimana secara genealogi mereka bertautan.
Posisi istimewa ada pada dwarves. Makhluk mirip manusia bertubuh pendek ini bukan ciptaan Iluvatar, tapi hasil kreasi valar bernama Aule, yang kemudian mempersembahkan ciptaannya kepada Iluvatar. Iluvatar menerima persembahan ini, lalu memberinya kehidupan dan kehendak bebas. Untuk mengimbangi dwarves, Iluvatar menciptakan ent, penjaga pepohonan.
Penghuni-penghuni yang lain di antaranya adalah orc dan troll, makhluk jahat hasil rekayasa Morgoth; mereka bukan kreasi orisinal, tapi "tiruan" elves dan ent. Asal-usul mereka tak jelas; setidaknya beberapa di antara mereka dihidupkan dari manusia dan elves yang cacat. Selain mereka, ada pula bermacam satwa di antaranya adalah wujud lain maiar, atau keturunan maiar.
Semua hal itu memang berskala besar dan menunjukkan betapa Tolkien berada dalam posisi sekaligus seperti Sang Pencipta. Tolkien sendiri mulanya tak pernah berniat untuk melakukannya. Setelah The Hobbit, ia baru mulai mereka-reka cerita lain yang juga tentang hobbit karena desakan penerbitnya, dia mulai menulis cerita tersebut pada tahun 1930. Proses penulisan cerita baru ini berlangsung lamban; Tolkien ingin segalanya sempurna. Dari surat-suratnya, Tolkien memang melihat pekerjaannya sebagai sebuah sub-penciptaan dan dirinya sebagai sub-pencipta dia percaya bahwa memang tugasnyalah untuk menciptakan cerita.
Gagasan bagi fantasi besar itu, khususnya The Lord of the Rings, tak lepas dari cara Tolkien memandang kehidupan, dengan pendekatan Katolik, di samping minat profesionalnya pada studi bahasa (filologi) dan mitologi. "Tentu saja secara mendasar karya itu memang (bersifat) religius dan Katolik," kata Tolkien dalam satu suratnya. "Begitulah mula-mula secara tak sadar, tapi (begitu pula) secara sadar setelah revisi.... Unsur-unsur agama terserap ke dalam cerita dan simbolisme.
Menurut Humprey Carpenter mitos dapat membuat manusia tersesat sedangkan menurut Tolkien berpendapat bahwa mitos bukan hanya sekedar rekaan semata tetapi, hanya dengan mitos kita dapat menyampaikan kebenaran. Sayangnya, Tolkien membantah bahwa mitos bukanlah kebohongan.
Tolkien menjelaskan, sebagai mahkluk Tuhan, manusia merajut mitos sebagai cermin fragmen cahaya sejati, kebenaran abadi yang ada pada Tuhan. "Mitos bisa saja tersesat, tapi betapapun goyah, mitos membawa kepada pelabuhan sejati, sedangkan “kemajuan” materialistis hanya mengajak ke jurang dan kuasa jahat."
Dalam kasus The Lord of the Rings, Carpenter menjelaskan, nilai-nilai yang muncul adalah nilai-nilai keagamaan .Tanpa menyebut Tuhan, Tolkien menunjukkan kekuasaan-Nya lewat setiap tikungan dalam pola sejarah. Ia tak menyebut Aragorn dan Gandalf sebagai malaikat penolong cukup dengan memperlihatkan bahwa mereka mewakili harapan dan kekuatannya, termasuk kembalinya Gandalf secara menakjubkan dari kematian. Sama halnya dengan Frodo. Tanpa harus menjadi seorang Kristiani, melalui tindakannya, Frodo menyingkapkan makna sejati kehidupan Kristiani.Lebih dari itu, masih menurut Humphrey, sesungguhnya bukan Frodo hobbit pemikul beban tugas memusnahkan Cincin Utama di Gunung Doom yang menyelamatkan Middle-earth, dan bukan pula Gollum. Tapi sang penyelamat adalah Sesuatu yang bekerja melalui kasih dan kemerdekaan mahkluknya, yang "mengampuni kita karena pelanggaran-pelanggaran kita, 'pada saat kita memaafkan mereka yang melanggar (hak-hak) kita'".
Sepanjang kisah dalam The Lord of the Rings, kuasa kejahatan tampak begitu digdaya, tapi tidak maha kuat. Selalu terasa bahwa kekuasaan agung setiap saat berada di samping para penentang Sang Penguasa Kegelapan dan bahwa, pada akhirnya, akan berjaya menghadapi segala bentuk kejahatan.Begitu juga dalam kehidupan, yang tidak dapat dipisahkan dari keduanya. Keduanya saling berdampingan.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris , bergiat Labor Penulisan Kreatif, Fakultas Sastra, Universitas Andalas
Anak Minang “Gaul”Oleh: Elsya Crownia
Dizaman modernisasi manusia dihadapkan dalam suatu permasalahan .Permasalahan kebangsaan ,masalah krisis multidemensi,krisis identitas. Identitas adalah suatu perwujudan eksistensi diri,berarti manusia dituntut agar selalu menuntut ilmu.Ilmu dalam konteks pendidikan.Peradaban dalam dunia pendidikan menuntut manusia untuk menggunakan rasio.Misalnya,masalh identitas pemuda Minangkabau adalah sesuatu yang patut kita cermati sebagaimana yang kita ketahui masyarakat .Sementara budaya yang mereka adopsi adalah budaya trend setter, alias budaya para selebritis seakan-akan mereka terlalu hanyut oleh opini-opini mereka terhadap budaya.
Meskipun mereka mengetahui syarak, hanyalah sebuah wacana,wacana tanapa konsep.Bahkan,mereka bangga menenteng gelar “anak gaul”.Sebenarnya,apa arti “gaul”.Gaul adalah memperluas pergaulan,tetapi “gaul”konteks anak muda Minang sendiri adalah mentrasformasi budaya asing tanpa mengindahkan norma-norna.”Buat apa kita bicara tentang agama,sementara kita melanggarnya”.Bahkan,generasi muda Minang disungguhkan dengan sesuatu yang ekstrim,pergaulan bebas,dan perkumpulan anak-anak punk.
Anak muda Minang dalam kehidupannya yang memahami agama pun ada yang menyimpang dari pemahaman mereka. Mereka berpikir independent misalnya ‘anak gadis’ cerita tentang percintaan saat menemukan sang pujaan hati,kalau putus dibawa pergi.Sementara’pemuda Minang” terlalu perfect memandang sang gadis harus seksi,cantik,necis,bahkan menggairahkan.Kultural budaya Minang tidak terindahkan,karakter mereka cendrung dipengaruhi oleh nafsu dan gaya hidup yang menurut mereka benar.Namun,kadangkala kebenaran tidak dapat diasumsikan dengan emosional .Bahkan,jarang sekali mereka berpikir secara terbuka justru cendrung skeptis dengan konsep-konsep yang hedonistis.Peradaban memang maju,sensitifitas terhadap lingkungan pun begitu tipis .Icon anak muda sekarang ini terlalu membahayakan.Bahkan pengawasan dalam lingkungan mereka longgar.
Maksudnya,tidak mengetahui atau memperketat pengawasan dari orang tua,orang muda Minang terbawa dalam arus budaya dan mereka mengalami cultural sock sehingga, tidak mampu men-filter benar dan salah.
Pemahaman anak Minangkabau (tidak bangga dengan Minang),bahkan sikapnya mencerminkan “sikap kerbau” yang suka menyerobok apa pun dihadapannya. Pandangan mereka datar,bahkan menyukai sesuatu berbau ‘seks’,ini jelas menandakan generasi muda mengalami dekadensi moral.Moral dikesampingkan nafsu telah menjadi Tuhan.Seakan Tuhan,enggan berbicara Iblis pun tertawa.
“Modern n Gaul” ,apa sebenarnya modern,modern dengan menenteng HP baru ,main game dan membuang waktu tanpa ada segengam ilmu.Ilmu hanya dibawa lalu yang penting ,dapat kecengan baru. Dunia semakin kacau ,para pemuda ikut kacau dengan budaya mereka .Sebenarnya,hal tersebut menunjukkan bahwa anak muda yang berkoar-koar “ gaul dan modern” hanyalah seonggok komunitas tanpa identitas.
Meskipun para wisatawan luar negeri datang ,mereka malah melotot”wow seksi” .Berarti pikiran anak muda sekarang pada umumnya terkontaminasi oleh virus-virus syahwat.
“Syarak dan Kitabullah “ adalah pelengkap,bukan sebagai media untuk berpikir “tentang falsafah”.Mereka dibuai dengan kemudahan sehingga menjadi manja,malas,untuk berbuat.Walau berbuat sesuatu itu hanyalah formalitas .
Hal tersebut ,dapat kita temui didunia kampus .Para pemuda Minang sendiri cendrung men-Tuhankan “ego”.Dan tidak dapat melihat lebih dalam dan radikal mengenai filosofi kehidupan baik itu bermasyarakat.Ironinya,apabila ada salah satu yang mendasari pemahaman “falsafah” cendrung dicemooh dan dicerca.
Pola pikir anak muda yang pragmatis dan skeptis merupakan faktor utama berjamurnya pengganguran.
Dizaman modernisasi manusia dihadapkan dalam suatu permasalahan .Permasalahan kebangsaan ,masalah krisis multidemensi,krisis identitas. Identitas adalah suatu perwujudan eksistensi diri,berarti manusia dituntut agar selalu menuntut ilmu.Ilmu dalam konteks pendidikan.Peradaban dalam dunia pendidikan menuntut manusia untuk menggunakan rasio.Misalnya,masalh identitas pemuda Minangkabau adalah sesuatu yang patut kita cermati sebagaimana yang kita ketahui masyarakat .Sementara budaya yang mereka adopsi adalah budaya trend setter, alias budaya para selebritis seakan-akan mereka terlalu hanyut oleh opini-opini mereka terhadap budaya.
Meskipun mereka mengetahui syarak, hanyalah sebuah wacana,wacana tanapa konsep.Bahkan,mereka bangga menenteng gelar “anak gaul”.Sebenarnya,apa arti “gaul”.Gaul adalah memperluas pergaulan,tetapi “gaul”konteks anak muda Minang sendiri adalah mentrasformasi budaya asing tanpa mengindahkan norma-norna.”Buat apa kita bicara tentang agama,sementara kita melanggarnya”.Bahkan,generasi muda Minang disungguhkan dengan sesuatu yang ekstrim,pergaulan bebas,dan perkumpulan anak-anak punk.
Anak muda Minang dalam kehidupannya yang memahami agama pun ada yang menyimpang dari pemahaman mereka. Mereka berpikir independent misalnya ‘anak gadis’ cerita tentang percintaan saat menemukan sang pujaan hati,kalau putus dibawa pergi.Sementara’pemuda Minang” terlalu perfect memandang sang gadis harus seksi,cantik,necis,bahkan menggairahkan.Kultural budaya Minang tidak terindahkan,karakter mereka cendrung dipengaruhi oleh nafsu dan gaya hidup yang menurut mereka benar.Namun,kadangkala kebenaran tidak dapat diasumsikan dengan emosional .Bahkan,jarang sekali mereka berpikir secara terbuka justru cendrung skeptis dengan konsep-konsep yang hedonistis.Peradaban memang maju,sensitifitas terhadap lingkungan pun begitu tipis .Icon anak muda sekarang ini terlalu membahayakan.Bahkan pengawasan dalam lingkungan mereka longgar.
Maksudnya,tidak mengetahui atau memperketat pengawasan dari orang tua,orang muda Minang terbawa dalam arus budaya dan mereka mengalami cultural sock sehingga, tidak mampu men-filter benar dan salah.
Pemahaman anak Minangkabau (tidak bangga dengan Minang),bahkan sikapnya mencerminkan “sikap kerbau” yang suka menyerobok apa pun dihadapannya. Pandangan mereka datar,bahkan menyukai sesuatu berbau ‘seks’,ini jelas menandakan generasi muda mengalami dekadensi moral.Moral dikesampingkan nafsu telah menjadi Tuhan.Seakan Tuhan,enggan berbicara Iblis pun tertawa.
“Modern n Gaul” ,apa sebenarnya modern,modern dengan menenteng HP baru ,main game dan membuang waktu tanpa ada segengam ilmu.Ilmu hanya dibawa lalu yang penting ,dapat kecengan baru. Dunia semakin kacau ,para pemuda ikut kacau dengan budaya mereka .Sebenarnya,hal tersebut menunjukkan bahwa anak muda yang berkoar-koar “ gaul dan modern” hanyalah seonggok komunitas tanpa identitas.
Meskipun para wisatawan luar negeri datang ,mereka malah melotot”wow seksi” .Berarti pikiran anak muda sekarang pada umumnya terkontaminasi oleh virus-virus syahwat.
“Syarak dan Kitabullah “ adalah pelengkap,bukan sebagai media untuk berpikir “tentang falsafah”.Mereka dibuai dengan kemudahan sehingga menjadi manja,malas,untuk berbuat.Walau berbuat sesuatu itu hanyalah formalitas .
Hal tersebut ,dapat kita temui didunia kampus .Para pemuda Minang sendiri cendrung men-Tuhankan “ego”.Dan tidak dapat melihat lebih dalam dan radikal mengenai filosofi kehidupan baik itu bermasyarakat.Ironinya,apabila ada salah satu yang mendasari pemahaman “falsafah” cendrung dicemooh dan dicerca.
Pola pikir anak muda yang pragmatis dan skeptis merupakan faktor utama berjamurnya pengganguran.
Subscribe to:
Posts (Atom)